Sejarah Tokoh Warok dalam Reog Ponorogo

Hartono dalam bukunya yang berjudul Reog Ponorogo (1980) mengatakan bahwa kesenian reog Ponorogo dianggap sebagai kesenian tradisional, penuh dengan nilai-nilai historis dan legendaris yang tumbuh dan berkembang sejak dahulu hingga sekarang bukan saja menjadi kebanggaan daerah melainkan menjadi kebanggan nasional. Penyajian dan penampilan reog Ponorogo dengan figur yang penuh batiniah dilapisi magis merupakan perpaduan antara aspek lahiriah dan batiniah yang seimbang, tetap hidup berkembang di kalangan masyarakat Ponorogo.
Versi resmi alur cerita kesenian Reog Ponorogo adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dihadang oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh Warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan Warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya (Wiki, 2001: reog Ponorogo).

Asal-usul Warok
Reog Ponorogo merupakan salah satu bentuk prasasti seni dan suara yang didukung warga Syailendra Wangsa dan mereka memeluk agama Buddha sekte Tantrayana, yang menurut kepercayaan dalam hal ini kesempurnaan hidupnya dengan “sakti”. Kesaktian Lah yang diutamakan, cara untuk tetap sakti dengan pantangan menjauhi wanita, lalu muncullah Warok atau wira tamtama yang diagungkan (pengawal). Karena menjauhi wanita itu, tuntutan nalurinya yang secara alami terjadi dipenuhi dengan sesama jenis. Dalam bertahan di dunia kesaktian tersebut nalurinya senang dengan sesama pria yang manis rupanya. Pria pilihan Warok inilah yang dinamakan Gemblak (Aji, 2007: 1). Dahulu kata Warok berarti besar. Seseorang disebut Warok jika ia sudah besar sekali wibawanya dan besar sekali kedudukanya dalam masyarakat. Ia disegani, dihormati. Warokan merupakan badan wadhak dari jiwa besar yang tangguh dan kuat pendiriannya, darinya selalu memancar ilmu dan kesucian. Gambaran dari seluruh jiwa Warok diwujudkan dalam bentuk yang berperawakan tinggi, besar, berkumis, berjanggut panjang. Pada pipi dan dada tumbuh bulu hitam yang mengerikan. Ia memakai pakaian yang serba hitam. Menurut kepercayaan, hitam mengandung makna keteguhan. Lambang kesucian budi, tingkah dan ilmu (Hartono, 1980: 33). Berbicara mengenai Warok bagi masyarakat Ponorogo bukan merupakan suatu hal yang asing. Kalau orang mengenal Warok Ponorogo sebenarnya ia sudah mulai mengenal akan sebagian dari khas daerah. Identitas Warok biasanya hanya mereka kenal pada pakaiannya saja. Pakaian ini adalah pakaian daerah asli Ponorogo, yang kini makin dikenal dan makin digemari. Warok bukan gambaran masyarakat Ponorogo pada umumnya. Warok merupakan karakter/ ciri khas dan jiwa masyarakat Ponorogo yang telah mendarah daging sejak dahulu yang diwariskan oleh nenek moyang kepada generasi penerus. Kaitan Warok dengan kesenian reog Ponorogo sangat erat sekali, dimana ada reog Ponorogo disitulah ada Warok (Tim Pemkab. Ponorogo, 1996: 59). Sedangkan pengertian Warok itu sendiri hingga sekarang masih banyak yang belum mengenal pasti. Dalam pengertian sehari-hari, kata Warok sinonim dengan kata weruk. Weruk artinya : besar sekali.

Warok sebagai Tokoh Sentral
Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara yang baik dan jahat dalam cerita kesenian reog, dan juga sebagai tokoh sentral dalam kesenian reog Ponorogo yang hingga kini menyimpan banyak hal yang cukup kontroversial. Dalam pentas sosok Warok lebih terlihat sebagai pengawal/ punggawa raja Klana Sewandana (Warok muda) atau sesepuh dan guru (Warok tua). Dalam pentas sosok Warok muda digambarkan tengah berlatih mengolah ilmu kanuragan, sementara Warok tua digambarkan sebagai pelatih atau pengawas Warok muda. Pada awalnya Warok digambarkan sebagai sosok pengolah kanuragan yang demi pencapaian ilmunya, tidak berhubungan dengan wanita, melainkan dengan bocah lelaki berumur 8-15 tahun yang acapkali disebut Gemblakan. Namun saat ini Warok telah mengalami perubahan paradigma (Aji, 2007: 1). Warok adalah seseorang yang betul-betul menguasai ilmu, baik lahir maupun batin. Dari kata Warok akan muncul 3 macam istilah yaitu Warok tua, Warok muda dan Warokan. Adapun ciri-ciri seorang Warok pada umumnya adalah sebagai berikut: banyak berilmu dan sakti, ilmu dan kesaktiannya itu tidak untuk diri pribadi melainkan dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga dan masyarakat lingkunganya Rela berkorban demi kepentingan umum Pengayom baik terhadap keluarga, masyarakat, bangsa dan negara Suka bekerja keras tanpa pamrih, tanpa memikirkan untung dan rugi apabila sudah kesanggupannya Berwatak jujur dan bertanggung jawab Bersikap adil kepada siapapun Berwatak suka mengalah, lemah lembut tetapi tegas dalam pendirian; dan Berwatak wira'i artinya menjauhi sesuatu yang samar-samar atau kurang jelas. Warok tua (senior) dalam kesenian reog Ponorogo berfungsi sebagai penanggung jawab dan pengayom bila terjadi sesuatu masalah. Warok muda (yunior) adalah Warok dalam tahap awal yang sedang memperdalam ilmu (Tim Pemkab. Ponorogo, 1996: 60). Warok mengarahkan hidupnya untuk menuju yang benar dan tepat. Untuk itu bekal yang harus dimilikinya juga banyak dan jalan yang harus ditempuh pun tidaklah mudah. Ilmu kanuragan sangatlah penting bagi calon Warok, sebagai salah satu bentuk pertahanan fisik terhadap ancaman atau bahaya diri. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang Warok seperti tubuh harus bersih dalam arti mampu mengekang segala hawa nafsu, menahan lapar dan juga haus, dan juga tidak bersentuhan dengan wanita dan beberapa persyaratan materi lainnya. Setelah itu calon Warok akan ditempa dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. Setelah dinyatakan menguasai ilmu tersebut, ia akan dikukuhkan menjadi seorang Warok sejati dan memperoleh senjata kolor wasiat. Dari segala bentuk persyaratan yang harus dijalani para calon Warok inilah muncul istilah Gemblakan (Aji, 2007: 2). Warok umumnya menjabat sebagai demang, sedang dalam kesenian reog ia sebagai pimpinan yang sekaligus menjadi pemain barongan. Demikian diharapkan jiwa kesatria dan keteguhan hati itu secara tidak langsung menjiwai seluruh pelaku dalam kesenian reog.

Kehidupan Warok dan Gemblaknya
Satu sisi menarik di samping kesaktian para Warok ini adalah hubungan mereka dengan gemblak-nya. Mengenai penari jathil laki-laki atau gemblak ini Poerwowijoyo dalam bukunya yang berjudul Reog Ponorogo (1985: 3) memaparkan bahwa : para Warokan dan Warok itu mempunyai kesaktian dan kanuragan. Mempunyai tulang yang keras dan kulit yang kebal. Ajaran dari perguruannya: lelaki yang telah kesengsem asmara, tertarik perempuan, dapat membuat kulit empuk, membuat tulang jadi rapuh, perutnya seperti gedebog pisang. Oleh karena itu, para Warok menghindari wanita, banyak bertapa dan sering puasa. Sebagai pengganti wanita, mereka menyenangi anak laki-laki yang berwajah tampan (homo seksual)”. Sebelum tahun 1980-an keberadaan reog tidak pernah bisa dilepaskan dengan tradisi Warok dan gemblak-nya, yang kemudian diakui secara terang-terangan dalam teks Poerwowijoyo sebagai homoseksual. Namun setelah tahun 1980-an kata-kata Gemblak seolah menjadi tabu atau merupakan penghinaan terhadap seseorang. Padahal pada zamannya, Gemblak itu menjadi kebanggaan seorang Warok. Jumlah Gemblak yang dimiliki dan wajahnya yang tampan menjadi prestise sendiri bagi seorang Warok. Sebaliknya, menjadi Gemblak mempunyai nilai kebanggaan tertentu, atau paling tidak para Gemblak ini mendapat keuntungan ekonomis (Zamzam, 2005: 127). Penari kuda kepang (jathilan) adalah seorang gemblakan, sejak dahulu kala ada rahasia mengapa pertunjukan reog selalu baik dalam menghibur penikmatnya, itu semua karena daya tarik para penari jathil yang beranggotakan anak lelaki manis. Gemblakan dan Warokan adalah dua tetapi satu. Keduanya tidak dapat dipisahkan, ibarat merak dengan harimau. Gemblakan adalah merak, sedang Warokan adalah hitam. Perkumpulan reog merasa penuh kebanggaan jika ia memiliki penari kuda yang tampan dan manis. Peranan para penari jathil sangat menentukan keberhasilan suatu pertunjukan (Hartono, 1980: 69). Namun beberapa waktu kebelakang praktek gemblakan cenderung berkurang bahkan menghilang. Dewasa ini sudah banyak Warok yang kembali ke kehidupan semula dan menikah dengan perempuan. Perubahan penari jathilan dari laki-laki ke perempuan ini mungkin pula berhubungan dengan semakin terkuburnya praktek gemblakan, yaitu ketika penonton lebih menyukai jathil perempuan daripada laki-laki. Namun lebih jauh dari itu, apabila dilihat dari konteks politik yang berkembang pada saat itu, praktek Gemblakan dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa atau tidak sejalan dengan kebudayaan Indonesia yang adi luhung, sehingga sangatlah penting untuk menggantikan sosok “homo” yang pada saat itu menjadi sosok yang harus ditutup-tutupi (Zamzam, 2005: 135).

Sikap Berani Menentang Raja
Sejarah reog menjelaskan bahwa Warok dianggap sebagai orang yang berani menentang raja. Pada alur cerita reog dikisahkan wujud sindiran (satire) Ki Ageng Kutu (pengawal setia kerajaan) kepada raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yang telah lalai dalam memerintah kerajaan pada saat itu, karena terlalu banyaknya campur tangan permaisuri raja. Dalam simbolisasinya “barongan” (diatas kepala harimau terdapat burung merak yang bertengger dengan tenang) merupakan gambaran pemerintahan raja yang dikendalikan permaisuri. Budaya kaum bawahan untuk selalu menghormati rajanya, sangat dipegang teguh oleh Ki Ageng Kutu. Karena itulah ide untuk memberikan sindiran kepada raja dilancarkan dengan melalui perwujudan barongan. Sementara sosok Pujangga Anom/ Bujangganong dalam reog itu adalah sosok Ki Ageng Kutu sendiri yang menari-nari bebas dan lucu mengejek Singo Barong (barongan) lalu kemudian mengalahkannya. Pada versi Bantarangin dalam tulisan Poerwowijoyo yang berjudul Reog Ponorogo (1985: 9), sosok Pujangga Anom dianggap menunjukkan sifat-sifat kepahlawanan dan kebijaksanaan, juga berhasil mengalahkan Singobarong. Klono Sewandono lebih digambarkan sebagai sosok raja yang gagal dan berwatak pecundang. Sementara itu sosok Pujangga Anom/ Bujangganong digambarkan dengan matanya yang melotot berarti mengajarkan untuk selalu membuka mata, membaca situasi untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Hidung Pujangga Anom yang besar dan panjang melambangkan kesucian. Hidung tidak bisa dibohongi, bau busuk akan tercium busuk dan wangi akan tercium wangi. Mulutnya yang lebar dan giginya yang mrongos (bagian atas agak maju kedepan), mengandung nasihat agar jangan mengumbar kata-kata. Telinganya yang lebar menyuruh untuk mendengar nasihat-nasihat yang baik. Rambutnya yang gimbal mengajarkan untuk hidup yang bersih. Sedangkan sosok jathilan melambangkan kekuatan dan ketegaran seorang prajurit. Dalam alur cerita kesenian reog Ponorogo ini babak Pujangga Anom/ Bujangganong mengalahkan barongan dapat dilihat dalam bagian tari Warok dan tari Pujangga anom. Babak tariannya ini mengisahkan sindiran kepada raja yang tengah dikuasai atau terpengaruh oleh permaisuri. Hingga akhirnya perlawanan terhadap raja pun berlanjut. Beragamnya versi cerita reog yang berkembang di kalangan pencintanya tidak membuat turunnya minat dan kecintaan terhadap seni ini. Warga Ponorogo khususnya sangat meyakini legenda reog Ponorogo sebagai suatu hal yang benar-benar pernah terjadi dan hingga kini dapat kita lihat buktinya bahwa kesenian reog Ponorogo masih aktif dan terjaga kelestariannya.
